Fenomena Buang Dolar di Mana-Mana, Malapetaka Ancam Amerika

U.S. Dollar and Chinese Yuan banknotes are seen in this illustration taken January 30, 2023. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration

Status “king” yang kini menempel pada dolar Amerika Serikat (AS) kini rawan tergusur oleh mata uang lain. AS pun akan menghadapi sejumlah ancaman jika dolar AS terpental dari singgasananya.

Dolar AS mulai menjadi ‘penguasa’ dunia sejak 1920an dengan menggeser poundsterling Inggris.

Status “king dolar” semakin dikuatkan oleh Bretton Woods systematau sistem Bretton Woods.

Sistem yang dibentuk pada tahun 1944 merupakan langkah AS dalam menciptakan tatanan sistem moneter baru di mana emas tidak lagi bisa menjadi nilai tukar tunggal.

AS juga menggunakan dan menetapkan dolar sebagai nilai tukar pengganti emas. Standar emas dan nilai mata uang lainnya akan ditautkan ke nilai dolar AS.

Pada saat itu, 1 gram emas ditautkan kepada US$35. Sistem tersebut ditandatangani oleh 44 negara pada 1944.

Sistem tersebut runtuh pada 1971 karena banyak pihak yang meyakini cadangan emas bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) tidak cukup untuk menjamin transaksi dolar.

Kendati sistem Bretton Woods runtuh, dolar AS tetap menjadi mata uang cadangan yang digunakan oleh negara-negara lain meskipun tidak lagi menjadi mata uang standar yang dipatok terhadap emas.

Dolar AS tetap menjadi penguasa karena paling banyak digunakan dalam perdagangan global, status AS sebagai negara dengan size ekonomi terbesar kedua, status AS sebagai pusat pasar keuangan dunia, serta super powernya AS dalam percaturan geopolitik dunia.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, status “king dollar” menghadapi tantangan berat. Banyak negara yang memilih meninggalkan dolar karena alasan stabilitas ekonomi.

China merupakan negara yang paling aktif dalam upaya de-dolarisasi. Pesaing terbesar AS dalam bidang ekonomi tersebut telah melakukan beragam kebijakan dan tindakan untuk meningkatkan penggunaan yuan sebagai mata uang internasional.

Pangsa dolar AS dalam cadangan devisa dunia menurun dari sekitar 70% pada tahun 2000 menjadi sekitar 60% saat ini.

Sebaliknya, euro hanya mengalami peningkatan sedikit. Renminbi China tumbuh paling cepat sejak 2016 meskipun pangsa cadangan globalnya masih kurang dari 3 persen.

Negara seperti Argentina dan Brasil mencari opsi lain untuk mengurangi risiko fluktuasi nilai dolar dan meningkatkan kemandirian ekonomi mereka.

India juga semakin getol meninggalkan dolar dengan mengganti pembayaran ke mata uang lain seperti renminbi China atau menggunakan rupee untuk perdagangan internasional mereka.

Posisi dolar AS sebagai ‘penguasa global’ jelas akan banyak menguntungkan Negara Paman Sam. Sebaliknya, AS akan menghadapi banyak persoalan jika dolar AS semakin banyak ditinggalkan.

Namun, AS juga akan menghadapi persoalan besar jika mata uang Greenback melemah.

Dolar merana, AS makin mahal bayar ongkos terbitkan obligasi

Dengan memiliki “king dolar”, Amerika Serikat tentu saja memiliki banyak keuntungan.

Di antaranya adalah pemerintah AS bisa menjual surat utang lebih dengan ongkos lebih murah mengingat banyak yang mencari aset berdenominasi dolar.

Dengan meningkatnya permintaan maka secara otomatis harga surat utang pemerintah AS (US Treasury) naik dan yield pun bisa lebih kecil.

Sebagai catatan, outstanding utang pemerintah AS saat ini berkisar di  US$ 31,5 triliun.

“Sangat sulit bersaing dengan dolar AS jika sebuah negara tidak memiliki pasar surat utang sebesar US treasury,” tutur Brad W. Setser, analis dari Council on Foreign Relation (CFR) dalam tulisannya The Dollar: The World’s Currency. 

Persoalan muncul jika dolar makin ditinggalkan banyak negara, AS harus membayar lebih mahal dalam menerbitkan surat utang.

Pasalnya, aset denominasi dolar AS menjadi kurang menarik sehingga AS harus menawarkan yield yang lebih tinggi sehingga bunga utang yang harus dibayar lebih mahal.

Status super power AS terancam jika dolar AS ditinggalkan 

Sekitar 80% dari perdagangan dunia menggunakan dolar AS sebagai alat transaksi.

Besarnya peran dolar dalam perdagangan internasional membuat AS semakin perkasa dalam memberikan sanksi perdagangan ke negara lain.
AS kerap memang memberikan sanksi kepada negara atau lembaga lain dalam bentuk larangan menggunakan mata uang Greenback sebagai alat pembayaran.

Sanksi tersebut pernah disampaikan Iran dan Kuba.

Pada 2015, BNP Paribas diberikan sanksi senilai US$ 9 miliar karena melanggar sanksi AS dengan melakukan transaksi dengan dolar AS dari Kuba, Iran, dan Sudan.

Dampak sanksi penggunaan dolar AS sebagai alat pembayaran kurang efektif jika dolar AS tidak perkasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*