Krisis Amerika Belum Reda, Bursa Wall Street Ambruk Lagi

Trader Timothy Nick works in his booth on the floor of the New York Stock Exchange, Thursday, Jan. 9, 2020. Stocks are opening broadly higher on Wall Street as traders welcome news that China's top trade official will head to Washington next week to sign a preliminary trade deal with the U.S. (AP Photo/Richard Drew)

Tiga bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street kembali jeblok. Bursa melemah karena investor khawatir dengan meluasnya krisis perbankan serta masih kencangnya data tenaga kerja di Amerika Serikat (AS).

Pada sesi awal pembukaan perdagangan Kamis (16/3/3023), indeks Dow Jones jatuh 0,66% ke 31.662,61. Sementara itu, indeks Nasdaq turun 0,55% ke 11.371,13 dan indeks S&P 500 melemah 0,68% ke 3.866,76.

Kembali memerahnya bursa Wall Street memperpanjang tren negatifnya. Pada perdagangan kemarin mayoritas bursa juga ambruk.

Pada perdagangan Rabu (15/3/3023), indeks Dow Jones jatuh 0,87% dan indeks S&P 500 turun 0,7%. Hanya indeks Nasdaq yang menguat tipis 0,05%

Bursa jeblok kemarin setelah krisis perbankan di Amerika Serikat (AS) merembet ke Eropa. Setelah krisis Silicon Valley Bank (SVB), Silvergate Bank, dan Signature Bank mengguncang AS, Eropa digoyang krisis Credit Suisse.

Namun, krisis Credit Suisse mulai mereda. Saham bank yang berusia 167 tahun tersebut sempat anjlok 24% pada Rabu tetapi kemudian sudah melonjak 30% pada Kamis.
Krisis Credit Suisse mereda setelah bank sentral Swiss, Swiss National Bank, akan memberi pinjaman sebesar US$ 54 miliar kepada mereka.

Kendati krisis mereda, analis melihat tekanan kepada sektor perbankan belum selesai. Saham-saham bank kembali jatuh pada perdagangan hari ini karena investor masih khawatir dengan sistem perbankan.

“Apa yang terjadi saat ini mengungkap seperti apa kepercayaan investor kepada sektor perbankan dan teknologi. Sepertinya sangat tidak mungkin kekhawatiran mereka akan lenyap dalam waktu cepat,” tutur kepala ekonom ACY Securities, Clifford Bennett, dikutip dari CNN International.

Seperti diketahui, SVB dan bank-bank lain bermasalah dengan penarikan besar-besaran nasabah. Kekhawatiran nasabah dengan cepat menyebar begitu bank dikabarkan kekurangan modal.

“Terlepas dari neraca mereka, hilangnya kepercayaan investor dan nasabah bisa membuat bank manapun kolaps,” imbuhnya.

Selain krisis perbankan, data tenaga kerja AS juga membuat bursa memerah.

Kamis malam waktu Indonesia, AS mengumumkan jika jumlah pekerja yang mengajukan klaim pengangguran pada pekan yang berakhir pada 11 Maret berkurang 20.000 menjadi 192.000.

Jumlah tersebut jauh di bawah ekspektasi pasar yang berada di angka 205.000. Berkurangnya klaim pengangguran menunjukkan masih kencangnya ekonomi AS sehingga inflasi bisa saja kembali naik.

Data klaim pengangguran AS akan menjadi pertimbangan bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan kebijakan suku bunga pekan depan.

Jika data tenaga kerja masih kencang maka The Fed bisa saja agresif dalam menaikkan suku bunga meskipun ada krisis perbankan.

Sementara itu, bank sentral Eropa (ECB) Kamis malam waktu Indonesia memutuskan tetap menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps menjadi 3,5% di tengah krisis perbankan.
Suku bunga saat ini adalah yang tertinggi sejak akhir 2008.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*